Guru yang tulus dan sangat luarbiasa. Itulah kalimat yang cocok untuk bu Erin "Freedom Writer 2007". Tak pantang menyerah, terus dan terus yakin bahwa yang dikatakan orang "tidak berguna" suatu saat akan menjadi "berlian" yang membuat semua orang terkagum-kagum.
Benar saja. Usaha yang tak mudah, sampai mengorbankan apapun berbuah manis. Sangat Manis.
Bu Erin, guru baru yang mungkin tidak tahu apa-apa mengenai kondisi lingkungan barunya langsung dihadapkan dengan kondisi kelas yang luarbiasa. Namun luarbiasa dalam konotasi negatif. Kelas penuh dengan kebencian, perkelahian karena isu rasisme. Saling serang untuk membuktikan ras yang paling benar dan kuat katanya.
Kaget? Pasti kaget. Bu Erin yang seorang guru baru harus dihadapkan dengan persoalan seperti itu. Tak kehabisan akal bu Erin memikirkan cara untuk mengatasi hal-hal seperti itu, seperti memberikan pengertian kepada mereka, memberikan contoh konkret, dan membuat mereka merasakan apa dampak yang dilakukan jika perkelahian, dendam, kebencian tetap mereka pertahankan. Tak semudah membalikkan telapak tangan untuk "mengubah" mereka. Bu Erin menerapkan beberapa strategi yang bisa diterapkan seperti study tour dan juga menulis jurnal diri. Tak ada dukungan internal dan juga ditentang menjadi tantangan bu Erin, Tetapi bu Eri tetap kokoh untuk menjadikan mereka "berlian" dengan meminta dukungan eksternal sekolah.
Bu Erlin dicintai para siswa setelah mencintai mereka dg tulus dan sepenuh hati.🙇♀️
BalasHapusTerkadang guru juga perlu menjadi teman bagi siswanya
BalasHapus