Kamis, 15 September 2022

FREEDOM WRITER

Guru yang tulus dan sangat luarbiasa. Itulah kalimat yang cocok untuk bu Erin "Freedom Writer 2007". Tak pantang menyerah, terus dan terus yakin bahwa yang dikatakan orang "tidak berguna" suatu saat akan menjadi "berlian" yang membuat semua orang terkagum-kagum.

Benar saja. Usaha yang tak mudah, sampai mengorbankan apapun berbuah manis. Sangat Manis.

Bu Erin, guru baru yang mungkin tidak tahu apa-apa mengenai kondisi lingkungan barunya langsung dihadapkan dengan kondisi kelas yang luarbiasa. Namun luarbiasa dalam konotasi negatif. Kelas penuh dengan kebencian, perkelahian karena isu rasisme. Saling serang untuk membuktikan ras yang paling benar dan kuat katanya. 

Kaget? Pasti kaget. Bu Erin yang seorang guru baru harus dihadapkan dengan persoalan seperti itu. Tak kehabisan akal bu Erin memikirkan cara untuk mengatasi hal-hal seperti itu, seperti memberikan pengertian kepada mereka, memberikan contoh konkret, dan membuat mereka merasakan apa dampak yang dilakukan jika perkelahian, dendam, kebencian tetap mereka pertahankan. Tak semudah membalikkan telapak tangan untuk "mengubah" mereka. Bu Erin menerapkan beberapa strategi yang bisa diterapkan seperti study tour dan juga menulis jurnal diri. Tak ada dukungan internal dan juga ditentang menjadi tantangan bu Erin, Tetapi bu Eri tetap kokoh untuk menjadikan mereka "berlian" dengan meminta dukungan eksternal sekolah. 

Bu Erin rela untuk menjalankan dua pekerjaan sampingan sekaligus demi memenuhi kebutuhan buku baru buat para siswanya. Bu Erin memilih buku seperti The Diary of Anne Frank yang diharapkan dapat meluluhkan hati para siswa dikelas. Ternyata strategi bu Erin yang mengkonsumsi dan memproduksi teks sangat berhasil membuat mereka tahu apa itu solidaritas dan juga saling memiliki, berbeda membuat semua akan lebih berwarna bukan membuat perselisihan. Motivasi juga bu Erin sampaikan, jika ada orang mengatakan kau "sampah" maka biarkan mereka menunggu sampah itu menjadi "berlian". Bu Erin menjadi guru yang dicintai oleh siswa dikelasnya atas segala bantuan, dukungan yang mampu menjadikan kelas bak "neraka" menjadi kelas "impian" bersama. 


:)

2 komentar:

  1. Bu Erlin dicintai para siswa setelah mencintai mereka dg tulus dan sepenuh hati.🙇‍♀️

    BalasHapus
  2. Terkadang guru juga perlu menjadi teman bagi siswanya

    BalasHapus

YUK REFLEKSI,,,

 APAKAH KITA SUDAH MENJADI GURU YANG BAIK? APAKAH KITA SUDAH MENJALANI NILAI-NILAI KODE ETIK? APAKAH KITA SUDAH DISIPLIN, ADIL, PROFESIONAL ...