Jumat, 08 Juli 2022

Sharing saja hehe


EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA JAWA TENGAH: INOVASI PEMBELAJARAN DAN PENGEMBANGAN POTENSI KEARIFAN LOKAL MELALUI DESAIN PEMBELAJARAN RELASI DAN FUNGSI  DENGAN KONTEKS TARI GAMBYONG BERBASIS PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA

by Hartono

Matematika merupakan pengetahuan dasar berbagai disiplin ilmu dan juga dapat mengembangkan daya pikir manusia (Fajar, Sunardi, & Yudianto, 2018) serta dapat menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, banyak siswa yang beranggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit, membosankan, menakutkan, dan tidak ada hubungannya dalam kehidupan sehari-hari (Lestari, 2019) karena tidak ada keterlibatan secara aktif dari siswa dalam pembelajaran matematika secara kontekstual. Padahal, matematika sebenarnya dapat dikontekstualkan dengan kehidupan sehari-hari bahkan memiliki hubungan erat dengan sumber kearifan lokal yaitu budaya (Maryati dan Prahmana, 2018) dan dijadikan sumber belajar (Putri, 2017). Matematika dan budaya dapat dikaitkan dengan menggunakan etnomatematika (Albanese & Perales, 2015).

Etnomatematika merupakan suatu antropologi budaya yang mengandung konsep matematika yang tidak hanya menggali nilai matematis dalam budaya saja, namun juga dapat memperkenalkan, melestarikan, dan mengembangkan budaya dan kearifan lokal beserta nilai-nilai yang terkandung didalamnya serta dapat meningkatkan motivasi belajar (Astuningtyas, Wulandari & Farahsanti, 2017) dan pemahaman konsep (Jati, Mastu, & Asikin, 2019). Pembelajaran matematika berbasis etnomatematika bisa melalui penerapan Pendekatan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).

PMRI merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari. PMRI dimulai dengan menvisualisasikan konteks yang nantinya akan menuju ke bentuk formal matematika. Konteks dalam PMRI digunakan sebagai titik awal pembelajaran dan sumber aplikasi belajar. Pemilihan konteks dalam PMRI bisa menggunakan benda-benda konkret, kearifan lokal dan budaya tertentu, atau sesuatu yang bisa dibayangkan oleh siswa (Afriansyah, 2016) seperti penggunaan konteks tradisi dan kebiasaan masyarakat (Nursyahidah, 2018, 2020; Aisyah, 2020), permainan tradisional (Nursyahidah, 2013, 2014; Edo, 2017), cerita rakyat dan legenda (Widyawati & Putri, 2016), bangunan bersejarah (Fachrurozi, 2018), dan lain sebagainya. Faktanya, PMRI dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa (Nursyahidah, 2013, 2014, 2018, 2020; Fahrurozi, dkk, 2018 serta meningkatkan pemahaman konsep (Fitri & Prahmana, 2018).

Dalam penjelasan itulah, diperlukan inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal dengan mengeksplorasi etnomatematika kemudian dibentuk desain pembelajaran dengan Pendekatan Matematika Realistik Indonesia sebagai upaya meningkatkan pemahaman konsep, minat, dan, motivasi belajar serta upaya melestarikan, mengembangkan, dan mengeksplorasi kearifan lokal.

Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi di Indonesia memiliki banyak  kearifan lokal yang masih populer sampai saat ini seperti Kesenian Wayang, Tari Gambyong, Tari Serimpi, Ritual Kirab Seribu Apem, Rumah Adat, Pertujukan Seni Sendratari Ramayana dan lain sebagainya. Untuk kesempatan kali ini, berfokus pada eksplorasi Tari Gambyong untuk materi Relasi dan Fungsi kelas VIII SMP.




Tari Gambyong merupakan tarian dari Jawa Tengah yang dipentaskan untuk menyambut tamu dengan gerakan yang indah dan anggun diiringi dengan gamelan jawa. Tari Gambyong memiliki makna kelembutan dari seorang wanita Jawa yang semua tertuang disetiap gerakan Tari Gambyong. Tidak hanya sebagai tari tradisional khas Jawa Tengah saja tetapi Tari Gambyong dapat digunakan sebagai sumber belajar matematika. Eksplorasi Tari Gambyong menemukan banyak konsep matematika didalamnya, seperti garis dan sudut, bangun datar, transformasi, dan lain-lain.

                                 

Tidak hanya bangun datar, garis, sudut, dan transformasi saja namun jika diekplorasi secara mendalam, Tari Gambyong bisa digunakan sebagai sumber belajar relasi dan fungsi karena bisa diterapkan sebagai starting point untuk setiap indikator relasi dan fungsi. Sebagai contoh, pada Tari Gambyong terdapat ragam gerak seperti gerakan tangan, kepala, kaki, dan badan. Gerakan tangan terdiri dari gerakan nyekithing, ngrayung, kebyok, kebyak, ulap-ulap, dan lain sebagainya. Gerakan kaki seperti menthang, embat, debeg, dan lain sebagainya.  Hal inilah yang bisa disebut himpunan gerakan tangan dan himpunan gerakan kaki yang mana himpunan merupakan materi prasyarat dalam materi relasi dan fungsi. Selain itu siswa juga bisa menghubungkan nama gerakan dengan keterangan yang tepat itulah yang disebut relasi dan selanjutnya bisa ditemukan konsep fungsi. Berikut ini gambaran dari relasi dan fungsi yang bisa ditemukan pada Tari Gambyong:



 Gambar 2 kemungkinan konsep relasi dan fungsi dari Tari Gambyong

Dapat disimpulkan, Tari gambyong bisa digunakan sebagai konteks berbasis Pendekatan Matematika Realistik Indonesia untuk materi relasi dan fungsi. Sehingga bisa dibuat desain pembelajaran terbaru berbasis kearifan lokal.

Dalam pendesainan pembelajaran harus memperhatikan indikator relasi dan fungsi. Adapun indikator relasi dan fungsi adalah sebagai berikut: 1) mendefinisikan relasi, 2) menunjukkan suatu relasi dengan diagram panah, diagram kartesius, dan pasangan berurutan, 3) mendefinisikan fungsi, 4) menunjukkan suatu fungsi dengan diagram panah, rumus fungsi, grafik, tabel, dan pasangan berurutan, 5) menjelaskan hubungan relasi dan fungsi, 6) menyelesaikan masalah berkaitan relasi dan fungsi. Pendesainan ini berupa alur lintasan pembelajaran disebut Hypothetical Learning Trajectory (HLT). HLT menjadi acuan dalam pelaksanaan pembelajaran ada tujuan pembelajaran yang sesuai indikator, deskripsi aktivitas pembelajaran, dan juga dugaan pemikiran siswa (Simon & Tzur, 2004).

Dugaan lintasan belajar yang bisa diterapkan pada materi relasi dan fungsi dengan konteks Tari Gambyong yaitu: 1) mengamati video interaktif Tari Gambyong yang dikaitkan dengan relasi dan fungsi, 2) menemukan dua himpunan yang bisa ditemukan dari video Tari Gambyong dan menjelaskan hubungannya, 3) menjelaskan konsep relasi dan fungsi berdasarkan aktivitas sebelumnya dan menemukan hubungan relasi dan fungsi, 4) menyajikan relasi yang ditemukan pada video dalam diagram panah, diagram kartesius, dan pasangan berurutan, 5) menyajikan fungsi yang yang ditemukan dengan diagram panah, rumus fungsi, grafik, tabel, dan pasangan berurutan, dan 7) menyelesaikan masalah berkaitan relasi dan fungsi. Lintasan belajar disusun dengan memperhatikan lima karakteristik PMRI (Zulkardi, 2010) yaitu menggunakan konteks sebagai titik awal, mengembangkan model yang menjembatani matematika konkret ke bentuk formal, kontribusi siswa, interaktivitas, dan keterkaitan konsep. Lintasan ini dijelaskan secara detail pada lembar aktivitas siswa yang diharapkan mampu membantu siswa dalam memahami materi, mengembangkan konsep, dan aktif dalam pembelajaran. 

 

Dari semua penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa inovasi pembelajaran dapat dilakukan dengan ekplorasi budaya dan kearifan lokal yang melalui desain pembelajaran berbasis Pendekatan Matematika Realistik Indonesia. Seperti Tari Gambyong yang dapat dijadikan sumber belajar untuk materi relasi dan fungsi. Pembelajaran berbasis budaya dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa serta meningkatkan pemahaman konsep. Selain itu, penggunaan kearifan lokal dalam pembelajaran matematika menjadi sarana untuk mengembangkan dan melestarikan kearifan lokal melalui pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Afriansyah, E. A. (2016). Makna Realistic dalam RME dan PMRI. Lemma, 2(2), 145174.

Aisyah, F., Nursyahidah, F., & Kusumaningsih, W. (2020, October). Designing online class learning of sine rule using ramadhan tradition context. In Journal of Physics: Conference Series (Vol. 1663, No. 1, p. 012067). IOP Publishing.

Albanese, V., & Perales Palacios, F. J. (2015). Enculturation with ethnomathematical microprojects: From culture to mathematics.

Astuningtyas, E. L., Wulandari, A. A., & Farahsanti, I. (2017). Etnomatematika dan pemecahan masalah kombinatorik. Jurnal Math Educator Nusantara: Wahana Publikasi Karya Tulis Ilmiah Di Bidang Pendidikan Matematika3(2), 111-118.

Edo, S. I., & Samo, D. D. (2017). Lintasan Pembelajaran Pecahan Menggunakan Matematika Realistik Konteks Permainan Tradisional Siki Doka. Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, 6(3), 311-322.

Fahrurozi, A., Maesaroh, S., Suwanto, I., & Nursyahidah, F. (2018). Developing Learning Trajectory Based Instruction of the Congruence for Ninth Grade Using Central Java Historical Building. JRAMathEdu (Journal of Research and Advances in Mathematics Education), 3(2), 78-85.

Fajar, F. A., Sunardi, S., & Yudianto, E. (2018). ETNOMATEMATIKA PEMBUATAN KERAJINAN TANGAN ANYAMAN BAMBU MASYARAKAT OSING DI DESA GINTANGAN BANYUWANGI SEBAGAI BAHAN AJAR GEOMETRI. KadikmA9(3), 97-108.

Fajar, F. A., Sunardi, S., & Yudianto, E. (2018). ETNOMATEMATIKA PEMBUATAN KERAJINAN TANGAN ANYAMAN BAMBU MASYARAKAT OSING DI DESA GINTANGAN BANYUWANGI SEBAGAI BAHAN AJAR GEOMETRI. KadikmA9(3), 97-108.

Fitri, N. L., & Prahmana, R. C. I. (2018). Pembelajaran luas segiempat untuk siswa kelas VII menggunakan Reallotment Activities. Jurnal Review Pembelajaran Matematika, 3(1), 18-28.

Jati, S. P., Mastur, Z., & Asikin, M. (2019, February). Potensi Etnomatematika untuk Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Matematis. In PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika (Vol. 2, pp. 277-286).

Lestari, P. (2019). EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA TARI TRADISIONAL ZAPIN PENYENGAT SEBAGAI SUMBER BELAJAR MATEMATIKA SEKOLAH (Doctoral dissertation, Universitas Maritim Raja Ali Haji).

Lestari, P. (2019). EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA TARI TRADISIONAL ZAPIN PENYENGAT SEBAGAI SUMBER BELAJAR MATEMATIKA SEKOLAH (Doctoral dissertation, Universitas Maritim Raja Ali Haji).

Maryati, M., & Prahmana, R. C. I. (2018). Ethnomathematics: Exploring the activities of designing kebaya kartini. MaPan: Jurnal Matematika dan Pembelajaran6(1), 11-19.

Nurhasanah, F., Kusumah, Y. S., & Sabandar, J. (2017). Concept of triangle: examples of mathematical abstraction in two different contexts. IJEME-International Journal on Emerging Mathematics Education, 1 (1), 53–70.

Nursyahidah, F. dkk. (2014). Instructional Design of Subtraction Using PMRI Approach Based On Traditional Game. Proceeding the 2nd SEA-DR. ISBN No. 978-602-17465-1-6. Palembang.

Nursyahidah, F., & Putri, R. I. I. (2013). Supporting First Grade Students' Understanding of Addition up to 20 Using Traditional Game. Indonesian Mathematical Society Journal on Mathematics Education, 4(2), 212-223.

Nursyahidah, F., Saputro, B. A., & Rubowo, M. R. (2018). Supporting second grade lower secondary school students’ understanding of linear equation system in two variables using ethnomathematics. IOP Conf. Ser. Inter. Cof. On Math., Sci, and Edu, 983, 012119.

Nursyahidah, F., Saputro, B. A., Albab, I. U., & Aisyah, F. (2020). Pengembangan Learning Trajectory Based Instruction Materi Kerucut Menggunakan Konteks Megono Gunungan. Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, 9(1), 47-58.

Putri, L. I. (2017). Eksplorasi etnomatematika kesenian rebana sebagai sumber belajar matematika pada jenjang MI. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar4(1).

Rudyanto, H. E., HS, A. K. S., & Pratiwi, D. (2019). Etnomatematika Budaya Jawa: Inovasi Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar. Jurnal Bidang Pendidikan Dasar3(2), 25-32.

Sunandar (2018).PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS KEARIFAN. LOKAL.file:///C:/Users/acer/Downloads/5-79-1-PB%20(1).pdf  (diakses 5 Januari 2021)

Syamsul, Chaidir (2017).Kearifan Lokal Suku Bugis Di Sulawesi. http://chaidirsyamsul.blogspot.com/2016/12/kearifan-lokal-suku-bugis-di-sulawesi.html (diakses 5 Januari 2021)

Widyawati, W., & Putri, R. I. I. (2016). Desain Pembelajaran Sudut Menggunakan Konteks Rumah Limas di Kelas VII. JINoP (Jurnal Inovasi Pembelajaran), 2(2), 437-448.

Zulkardi, Z., & Ilma, R. (2010). Desain Bahan Ajar Penjumlahan Pecahan Berbasispendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) Untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 23 Indralaya. Jurnal Pendidikan Matematika Sriwijaya, 4(2), 122133.

2 komentar:

  1. Tambah relasi dan fungsi dari gerakan trisik plus ngukel, sebagai mantan penari seingatku sejak kecil sampai SMA saya hanya diminta mesem plus kenes sama sang guru, gak pernah terpikir ttg ini✌😂

    BalasHapus

YUK REFLEKSI,,,

 APAKAH KITA SUDAH MENJADI GURU YANG BAIK? APAKAH KITA SUDAH MENJALANI NILAI-NILAI KODE ETIK? APAKAH KITA SUDAH DISIPLIN, ADIL, PROFESIONAL ...