EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA JAWA TENGAH: INOVASI
PEMBELAJARAN DAN PENGEMBANGAN POTENSI KEARIFAN LOKAL MELALUI DESAIN
PEMBELAJARAN RELASI DAN FUNGSI DENGAN
KONTEKS TARI GAMBYONG BERBASIS PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA
by Hartono
Matematika merupakan pengetahuan dasar berbagai disiplin ilmu dan juga dapat mengembangkan daya pikir manusia (Fajar, Sunardi, & Yudianto, 2018) serta dapat menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, banyak siswa yang beranggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit, membosankan, menakutkan, dan tidak ada hubungannya dalam kehidupan sehari-hari (Lestari, 2019) karena tidak ada keterlibatan secara aktif dari siswa dalam pembelajaran matematika secara kontekstual. Padahal, matematika sebenarnya dapat dikontekstualkan dengan kehidupan sehari-hari bahkan memiliki hubungan erat dengan sumber kearifan lokal yaitu budaya (Maryati dan Prahmana, 2018) dan dijadikan sumber belajar (Putri, 2017). Matematika dan budaya dapat dikaitkan dengan menggunakan etnomatematika (Albanese & Perales, 2015).
Etnomatematika
merupakan suatu antropologi budaya yang mengandung konsep matematika yang tidak
hanya menggali nilai matematis dalam budaya saja, namun juga dapat
memperkenalkan, melestarikan, dan mengembangkan budaya dan kearifan lokal beserta
nilai-nilai yang terkandung didalamnya serta dapat meningkatkan motivasi
belajar (Astuningtyas, Wulandari & Farahsanti, 2017) dan pemahaman konsep (Jati,
Mastu, & Asikin, 2019). Pembelajaran matematika berbasis etnomatematika
bisa melalui penerapan Pendekatan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).
PMRI
merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan matematika
dengan kehidupan sehari-hari. PMRI dimulai dengan menvisualisasikan konteks
yang nantinya akan menuju ke bentuk formal matematika. Konteks dalam PMRI
digunakan sebagai titik awal pembelajaran dan sumber aplikasi belajar.
Pemilihan konteks dalam PMRI bisa menggunakan benda-benda konkret, kearifan
lokal dan budaya tertentu, atau sesuatu yang bisa dibayangkan oleh siswa
(Afriansyah, 2016) seperti penggunaan konteks tradisi dan kebiasaan masyarakat
(Nursyahidah, 2018, 2020; Aisyah, 2020), permainan tradisional (Nursyahidah,
2013, 2014; Edo, 2017), cerita rakyat dan legenda (Widyawati & Putri,
2016), bangunan bersejarah (Fachrurozi, 2018), dan lain sebagainya. Faktanya, PMRI
dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa (Nursyahidah, 2013, 2014,
2018, 2020; Fahrurozi, dkk, 2018 serta meningkatkan pemahaman konsep (Fitri
& Prahmana, 2018).
Dalam
penjelasan itulah, diperlukan inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal dengan
mengeksplorasi etnomatematika kemudian dibentuk desain pembelajaran dengan
Pendekatan Matematika Realistik Indonesia sebagai upaya meningkatkan pemahaman
konsep, minat, dan, motivasi belajar serta upaya melestarikan, mengembangkan, dan
mengeksplorasi kearifan lokal.
Jawa
Tengah sebagai salah satu provinsi di Indonesia memiliki banyak kearifan lokal yang masih populer sampai saat
ini seperti Kesenian Wayang, Tari Gambyong, Tari Serimpi, Ritual Kirab Seribu
Apem, Rumah Adat, Pertujukan Seni Sendratari Ramayana dan lain sebagainya.
Untuk kesempatan kali ini, berfokus pada eksplorasi Tari Gambyong untuk materi
Relasi dan Fungsi kelas VIII SMP.
|
Gambar 1 Eksplorasi Tari untuk beberapa konsep matematika Sumber
gambar: https://bobo.grid.id/read/08679077/tari-gambyong-tarian-tradisional-dari-surakarta
https://steemit.com/art/@arumndalu55/seni-tari |
Tidak hanya bangun
datar, garis, sudut, dan transformasi saja namun jika diekplorasi secara
mendalam, Tari Gambyong bisa digunakan sebagai sumber belajar relasi dan fungsi
karena bisa diterapkan sebagai starting
point untuk setiap indikator relasi dan fungsi. Sebagai contoh, pada Tari
Gambyong terdapat ragam gerak seperti gerakan tangan, kepala, kaki, dan badan.
Gerakan tangan terdiri dari gerakan nyekithing,
ngrayung, kebyok, kebyak, ulap-ulap, dan lain sebagainya. Gerakan kaki
seperti menthang, embat, debeg, dan
lain sebagainya. Hal inilah yang bisa
disebut himpunan gerakan tangan dan himpunan gerakan kaki yang mana himpunan
merupakan materi prasyarat dalam materi relasi dan fungsi. Selain itu siswa
juga bisa menghubungkan nama gerakan dengan keterangan yang tepat itulah yang
disebut relasi dan selanjutnya bisa ditemukan konsep fungsi. Berikut ini
gambaran dari relasi dan fungsi yang bisa ditemukan pada Tari Gambyong:
Dapat disimpulkan,
Tari gambyong bisa digunakan sebagai konteks berbasis Pendekatan Matematika
Realistik Indonesia untuk materi relasi dan fungsi. Sehingga bisa dibuat desain
pembelajaran terbaru berbasis kearifan lokal.
Dalam
pendesainan pembelajaran harus memperhatikan indikator relasi dan fungsi.
Adapun indikator relasi dan fungsi adalah sebagai berikut: 1) mendefinisikan relasi, 2)
menunjukkan suatu relasi dengan diagram panah, diagram kartesius, dan pasangan
berurutan, 3) mendefinisikan fungsi, 4) menunjukkan suatu fungsi dengan diagram
panah, rumus fungsi, grafik, tabel, dan pasangan berurutan, 5) menjelaskan
hubungan relasi dan fungsi, 6) menyelesaikan masalah berkaitan relasi dan
fungsi. Pendesainan ini berupa alur lintasan pembelajaran disebut Hypothetical
Learning Trajectory (HLT). HLT menjadi acuan dalam pelaksanaan pembelajaran
ada tujuan pembelajaran yang sesuai indikator, deskripsi aktivitas
pembelajaran, dan juga dugaan pemikiran siswa (Simon & Tzur, 2004).
Dugaan
lintasan belajar yang bisa diterapkan pada materi relasi dan fungsi dengan
konteks Tari Gambyong yaitu: 1) mengamati video interaktif Tari Gambyong yang
dikaitkan dengan relasi dan fungsi, 2) menemukan dua himpunan yang bisa
ditemukan dari video Tari Gambyong dan menjelaskan hubungannya, 3) menjelaskan
konsep relasi dan fungsi berdasarkan aktivitas sebelumnya dan menemukan
hubungan relasi dan fungsi, 4) menyajikan relasi yang ditemukan pada video
dalam diagram panah, diagram kartesius,
dan pasangan berurutan, 5) menyajikan fungsi yang yang
ditemukan dengan
diagram panah, rumus fungsi, grafik, tabel, dan pasangan berurutan,
dan 7) menyelesaikan masalah berkaitan relasi dan fungsi. Lintasan belajar
disusun dengan memperhatikan lima karakteristik PMRI (Zulkardi, 2010) yaitu menggunakan
konteks sebagai titik awal, mengembangkan model yang menjembatani matematika
konkret ke bentuk formal, kontribusi siswa, interaktivitas, dan keterkaitan konsep.
Lintasan ini dijelaskan secara detail pada lembar aktivitas siswa yang
diharapkan mampu membantu siswa dalam memahami materi, mengembangkan konsep,
dan aktif dalam pembelajaran.
Dari semua penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa inovasi pembelajaran dapat dilakukan dengan ekplorasi budaya dan kearifan lokal yang melalui desain pembelajaran berbasis Pendekatan Matematika Realistik Indonesia. Seperti Tari Gambyong yang dapat dijadikan sumber belajar untuk materi relasi dan fungsi. Pembelajaran berbasis budaya dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa serta meningkatkan pemahaman konsep. Selain itu, penggunaan kearifan lokal dalam pembelajaran matematika menjadi sarana untuk mengembangkan dan melestarikan kearifan lokal melalui pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Afriansyah, E. A. (2016). Makna Realistic dalam RME dan PMRI.
Lemma, 2(2), 145174.
Aisyah, F.,
Nursyahidah, F., & Kusumaningsih, W. (2020, October). Designing online
class learning of sine rule using ramadhan tradition context. In Journal
of Physics: Conference Series (Vol. 1663, No. 1, p. 012067). IOP
Publishing.
Albanese, V.,
& Perales Palacios, F. J. (2015). Enculturation with ethnomathematical
microprojects: From culture to mathematics.
Astuningtyas,
E. L., Wulandari, A. A., & Farahsanti, I. (2017). Etnomatematika dan
pemecahan masalah kombinatorik. Jurnal Math Educator Nusantara: Wahana
Publikasi Karya Tulis Ilmiah Di Bidang Pendidikan Matematika, 3(2),
111-118.
Edo, S. I., & Samo, D. D. (2017). Lintasan Pembelajaran
Pecahan Menggunakan Matematika Realistik Konteks Permainan Tradisional Siki
Doka. Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, 6(3), 311-322.
Fahrurozi, A., Maesaroh, S., Suwanto, I., & Nursyahidah,
F. (2018). Developing Learning Trajectory Based Instruction of the Congruence
for Ninth Grade Using Central Java Historical Building. JRAMathEdu (Journal
of Research and Advances in Mathematics Education), 3(2), 78-85.
Fajar, F. A.,
Sunardi, S., & Yudianto, E. (2018). ETNOMATEMATIKA PEMBUATAN KERAJINAN
TANGAN ANYAMAN BAMBU MASYARAKAT OSING DI DESA GINTANGAN BANYUWANGI SEBAGAI
BAHAN AJAR GEOMETRI. KadikmA, 9(3), 97-108.
Fajar, F. A.,
Sunardi, S., & Yudianto, E. (2018). ETNOMATEMATIKA PEMBUATAN KERAJINAN
TANGAN ANYAMAN BAMBU MASYARAKAT OSING DI DESA GINTANGAN BANYUWANGI SEBAGAI
BAHAN AJAR GEOMETRI. KadikmA, 9(3), 97-108.
Fitri, N. L., & Prahmana, R. C. I. (2018). Pembelajaran
luas segiempat untuk siswa kelas VII menggunakan Reallotment Activities. Jurnal
Review Pembelajaran Matematika, 3(1), 18-28.
Jati, S. P.,
Mastur, Z., & Asikin, M. (2019, February). Potensi Etnomatematika untuk
Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Matematis. In PRISMA, Prosiding
Seminar Nasional Matematika (Vol. 2, pp. 277-286).
Lestari, P.
(2019). EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA TARI TRADISIONAL ZAPIN PENYENGAT
SEBAGAI SUMBER BELAJAR MATEMATIKA SEKOLAH (Doctoral dissertation,
Universitas Maritim Raja Ali Haji).
Lestari, P.
(2019). EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA TARI TRADISIONAL ZAPIN PENYENGAT
SEBAGAI SUMBER BELAJAR MATEMATIKA SEKOLAH (Doctoral dissertation,
Universitas Maritim Raja Ali Haji).
Maryati, M.,
& Prahmana, R. C. I. (2018). Ethnomathematics: Exploring the activities of
designing kebaya kartini. MaPan: Jurnal Matematika dan Pembelajaran, 6(1),
11-19.
Nurhasanah,
F., Kusumah, Y. S., & Sabandar, J. (2017). Concept of triangle: examples of
mathematical abstraction in two different contexts. IJEME-International Journal
on Emerging Mathematics Education, 1 (1), 53–70.
Nursyahidah, F. dkk. (2014). Instructional Design of
Subtraction Using PMRI Approach Based On Traditional Game. Proceeding the
2nd SEA-DR. ISBN No. 978-602-17465-1-6. Palembang.
Nursyahidah, F., & Putri, R. I. I. (2013). Supporting
First Grade Students' Understanding of Addition up to 20 Using Traditional
Game. Indonesian Mathematical Society Journal on Mathematics Education, 4(2),
212-223.
Nursyahidah, F., Saputro, B. A., & Rubowo, M. R. (2018).
Supporting second grade lower secondary school students’ understanding of
linear equation system in two variables using ethnomathematics. IOP Conf. Ser. Inter.
Cof. On Math., Sci, and Edu, 983, 012119.
Nursyahidah, F., Saputro, B. A., Albab, I. U., & Aisyah,
F. (2020). Pengembangan Learning Trajectory Based Instruction Materi Kerucut
Menggunakan Konteks Megono Gunungan. Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika,
9(1), 47-58.
Putri, L. I.
(2017). Eksplorasi etnomatematika kesenian rebana sebagai sumber belajar
matematika pada jenjang MI. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 4(1).
Rudyanto, H.
E., HS, A. K. S., & Pratiwi, D. (2019). Etnomatematika Budaya Jawa: Inovasi
Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar. Jurnal Bidang Pendidikan
Dasar, 3(2), 25-32.
Sunandar (2018).PEMBELAJARAN
MATEMATIKA BERBASIS KEARIFAN. LOKAL.file:///C:/Users/acer/Downloads/5-79-1-PB%20(1).pdf (diakses 5 Januari 2021)
Syamsul, Chaidir (2017).Kearifan
Lokal Suku Bugis Di Sulawesi. http://chaidirsyamsul.blogspot.com/2016/12/kearifan-lokal-suku-bugis-di-sulawesi.html
(diakses 5 Januari 2021)
Widyawati, W., & Putri, R. I. I. (2016). Desain
Pembelajaran Sudut Menggunakan Konteks Rumah Limas di Kelas VII. JINoP
(Jurnal Inovasi Pembelajaran), 2(2), 437-448.
Zulkardi, Z., & Ilma, R. (2010). Desain Bahan
Ajar Penjumlahan Pecahan Berbasispendidikan Matematika Realistik Indonesia
(PMRI) Untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 23 Indralaya. Jurnal
Pendidikan Matematika Sriwijaya, 4(2), 122133.


Tambah relasi dan fungsi dari gerakan trisik plus ngukel, sebagai mantan penari seingatku sejak kecil sampai SMA saya hanya diminta mesem plus kenes sama sang guru, gak pernah terpikir ttg ini✌😂
BalasHapusthx bu, next time i'll add it
Hapus